ditulis biar diingat, untuk cerita masa depan
kalau kemarin saya udah cerita tentang tragedi ngiler, sekarang mau cerita lagi nih. Kali ini tentang tragedi ingus. Kelihatannya jorok ya. Nama populernya ingus. Nama ilmiahnya (emang ada?) nggak tahu. Warnanya bervariasi. Ada yang transparan, putih, sampe yang paling ekstrim, ijo bangsat! (hijau yang hijaunya keterlaluan, tahu kan?). Sifatnya juga aneh-aneh. Cair, kental, asem manis, shapeshifter… hehehe, becanda.
Saya ini anak ingusan. Bukan ingusan dalam arti populernya lho, tapi ingusan memang ingusan. Saya punya semacam penyakit pilek bawaan yang berujung pada ingusan (hehehe). Dapet darimana? Nggak tahu… mungkin ada sesuatu dalam komposisi DNA saya yang tulisannya “ingus”, hehehe. Yang saya tahu, bapak saya juga punya kelakuan yang sama (tapi pileknya sering keterlaluan, hatchiii!).
Ngomong-ngomong soal ingus nih. Biasalah. Saya ada cerita konyol tentang si ijo-ijo. Begini nih :
cerita 1: ini cerita yang paling standar bagi saya. Udah sering terjadi, tapi waktu masih kecil. Yaa, SD-SMP lah. Begini ceritanya. Waktu sholat. Sedang khusyuk-khusyuknya nih. Yaela, malah ni hidung gatel-gatel mau ingusan! Kampret! Nggak tahu situasi! Akhirnya…
“perhatian, dilarang keras meniru adegan ini”
saya sedot ingusnya, masukin ke mulut. Ada banyak nih, mungkin satu liter (boong). Nah, sampai disini ada 2 pilihan. Pertama, simpen dimulut sampai sholat selesai. Lantas sprint kebelakang ngeluarin ni ingus, hoek! Hmmm.. masuk akal sih, tapi nggak mungkin lah sholat nahan ingus di mulut! Kalau imamnya bilang “amin” gimana? Ntar kalau saya bilang “amin” ingusnya keluar semua (malu). Pilihan kedua, TELAN LAGI INGUSNYA
.
Dengan bodohnya, saya memilih pilihan kedua. Mau bagaimana lagi???
sekian dulu
There are no trackbacks on this entry.
Comments
saya super ngingusnya kalo makan pedes, apalagi kalo nasi puyung.
ente emang jauh lebih jorok daripada ane…javascript:kaskusemoticonsclick(‘
’
ane mendingan diem,n ambil pilihan pertama